Rabu, 15 Februari 2012

Valentine itu Penting :)

Hari ini, hari pertama setelah hari valentine tahun ini. Sebagian orang menganggap perayaan valentine itu sangat penting.Sebagiannya lagi menganggap bahwa valentine sama dengan hari biasanya. Bahkan ada juga orang yang mengatakan bahwa valentine hanyalah kebudayaan barat yang membuat kita merasa menjadi budak kebudayaan orang. Ketika dipikir-pikir, memang benar bahwa setiap hari adalah hari kasih sayang, memang benar bahwa kebudayaan barat (valentine) telah memperbudak bangsa kita. Akan tetapi, tidak ada salahnya juga merayakan hari valentine tersebut. Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda untuk setiap hal yang mereka lakukan. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menyikapi setiap perayaan hari yang diaanggap bersejarah. dan bagiku, perayaan valentine bukanlah sesuatu yang dianggap terlalu membesar-besarkan kebudayaan orang tetapi hanya menganggap bahwa satu hari itu juga dapat lebih bermakna, ketika kita mengungkapkan sayang dengan penuh kesungguhan. Meskipun setiap hari bisa dikatakan hari kasih sayang. Jadi, bagiku valentine itu agak spesial karena biasanya aku mengungkapkannya dengan memberikan coklat, wafer ataupun biskuit untuk mereka yang cukup dekat denganku. hmmmm.. meskipun murah, tetapi cukup bagiku buat mengungkapkan kalau aku sayang kepada mereka.

Rabu, 04 Januari 2012

AKULAH DIA


Akulah perempuan itu
Perempuan yang selalu menunggu datangnya hujan di tengah gurun
Perempuan yang selalu menunggu kereta di tengah samudra
Perempuan yang tak lelah menanti  mentari berpendar di tengah salju
Perempuan yang tak lelah menanti candra ketika tilem
Perempuan yang tak henti menelisik jarum di tengah jerami
Perempuan yang tak henti menghitung jelaga di kedua jemarimu
Akulah dia…
Dia …
Si perempuan yang tak pernah menyulutkan api di tengah hujan

Ayu Putri Puspita'2012

Selasa, 03 Januari 2012

Bunga Pucuk Bang, penyebab kebingungan masyarakat


        Pada zaman dahulu diceritakan di sebuah desa hiduplah masyarakat yang taat melakukan upacara keagamaan. Masyarakat beraliran Hindu memercayai bahwa kehidupan masyarakat akan harmonis jika dilaksanakan upacara keagamaan berupa piodalan (upacara pemujaan terhadap Tuhan dengan mengaturkan sesaji). Piodalan yang jatuh setiap enam bulan sekali pada hari Buda Umanis Julungwangi (Rabu Umanis) ini merupakan upacara kebesaran yang dinanti-nanti masyarakat. Suatu ketika tepat di hari perayaan piodalan yang dirayakan di pura Pucak Manik Desa Adat Petang, pelaksanaan piodalan terbesar yang disebut dengan karya padudusan agung lan mendem pedagingan ini dihadiri oleh seluruh warga desa dan warga desa seberang  yang konon katanya mendapat undangan untuk menghadiri upacara piodalan tersebut.
Ketika piodalan (upacara keagamaan masyarakat hindu di pura berupa persembahyangan bersama dengan menggunakan sesaji/persembahan sesuai tingkatan tertentu) di Pura Pucak Manik, Desa Adat Petang ini berlangsung, seorang pemedek (orang yang datang untuk sembangyang ke pura) laki-laki dengan gagah akan tangkil (sembanhyang ke pura) menggunakan  hiasan di telinganya berupa bunga pucuk bang (bunga kembang sepatu berwarna merah). Laki-laki itu begitu gagah dengan kepercayaan dirinya menggunakan bunga itu sebagai hiasan di telinganya. Alhasil, pemedek tersebut mengalami suatu kejadian yang sangat aneh. Ketika hendak ke pura, seperti biasa pemedek harus melalui jalan umum di dekat pasar Petang. Setelah memasuki jalan ke arah timur di depan pasar, pemedek itu tidak menemukan jalan menuju pura. Pemedek  tersebut berputar-putar mengelilingi jalan dekat pura hingga ada orang yang menyadari bahwa orang itu tengah kebingungan. Setelah ditanyakan, pemedek tersebut ternyata akan sembahyang ke Pura Pucak Manik. Sekian lama diperhatikan, ternyata pemedek  itu menggunakan bunga pucuk bang di daun telinganya. Bunga tersebut merupakan bunga yang tidak diperbolehkan untuk digunakan ketika ke Pura Pucak Manik.  Penduduk desa meyakini sebuah kepercayaan bahwa masyarakat tidak boleh menggunakan bunga pucuk bang (bunga kembang sepatu yang berwarna merah) sebagai sarana persembahyangan maupun hiasan yang dikenakan dibagian sanggul untuk perempuan maupun di daun telinga untuk laki-laki.
Konon, bunga tersebut merupakan bunga yang dikenakan di mahkota Ida Betara (manifestasi Tuhan dalam wujud barong) yang menjadi penghias di bagian atas mahkota. Masyarakat memercayai bahwa bunga yang dijadikan mahkota tersebut merupakan bunga kebesaran bagi masyarakat di Desa Petang. Kejadian yang dialami pemedek tersebut diyakini bahwa pemedek tersebut tidak mengindahkan larangan yang dipercayai masyarakat sehingga ia mengalami kejadian seperti kebingan dan tidak tau arah menuju Pura Pucak Manik.
Kejadian di ataslah yang  menjadi penyebab masyarakat memercayai bahwa penggunaan bunga pucuk bang  ketika sembahyang ke Pura Pucak Manik dilarang.

-I Gusti Ayu Putri Puspita Sari/ 0912011004-

Minggu, 25 Desember 2011

Bukan Untukku

Tak habis-habis rasa ini. Aku hanya bisa memasang deretan tulisan sarat makna ini. Tulisan karya Ibu Sumarni Astuti kerap kali menginspirasi ku, mengingatkan aku akan  masa yang silam. Kini, tulisan beliau benar-benar bak kisah yang aku alami beberapa waktu lalu. Sungguh, ini mmbuatku tak berdaya. Ku ingat sebuah kitipan yang Ibu Sumarni lontarkan terhadapku, "tepat sasaran atau nyasar".. yaaah.. jawabannya mungkin nyasar. maka inilah deretan huruf berjajar secara vertikal dan horisontal yang menginspirasi dan membuatku bernostalgia dan bernostalgila.

...Cuma sekelebat bayang tertumpu kepadamu
biarlah kukristalkan saja
bila kelu kambium pada waktunya
jarum jam terasah asin laut
rindu jadi berkarat
lentera nelayan itu........
bukan,
itu bukan jemputan untukku
(Sumarni Astuti Dirgha'11)










Bagiku kejujuran itu...

Bagiku kejujuaran adalah tidak adanya hal yang ditutup-tutupi ataupun kebohongan.
Bagiku kejujuran itu sangat penting, besar artinya buat kebersamaan.
Bagiku kejujuran bukanlah kata sumpah yang diucapkan hanya semata-mata buat orang yakin.
Bagiku kejujuran bukanlah bahan becandaan, buat menarik perhatian orang.
Bagiku kejujuran bukanlah hanya untaian kata-kata yang membentuk kesatuan berupa kalimat yang memilki maksud suatu kebenaran semata.
Bagiku kejujuran bukanlah hal yang memalukan untuk diakui.
Bagiku kejujuran bukanlah kamuflase semata demi menjaga hubungan baik.
Bagiku kejujuran bukanlah kebahagiaan yang hanya di awal namun berakhir tragis,akan tetapi kejujuran tidak menyakiti.
Bagiku kejujuran adalah segala-galanya yang mampu membuat ku tetap berpikir bahwa jujur itu  bukan kebahagiaan sesat, bukan kamuflase, bukan hal yang memalukan, bukan hanya untaian kata, bukan bahan becandaan,bukan sumpah, dan yang terpenting kejujuran itu bukan kemunafikan. Kamu munafik.  Kejujuran itu bukan kamu.

-Poetri'11-




Buat Gelatik

Entah berapa abad akan ku  nanti
Entah berapa kali Caka lagi akan berganti
aku tak jua menemukan merpati
selama ini yang kutemui hanyalah gelatik
gelatik tanpa arah
yang hanya menyisakan amarah
Ranting-ranting yang merapuh
tak jua mengubah setiap rusuh
gelatik yang angkuh 
kini lumpuh dan lusuh
aaah,,,
haruskah tak kutemui merpati?
haruskah ku hanya terjaga untuk gelatik?
kini, ranting rapuh kian tumbuh
laksana manusia berpunarbhawa
dan aku, akan tetap terjaga buat gelatik 
tanpa aku harus temukan merpati

-Poetri'11-


















Sabtu, 24 Desember 2011

Puing-puing tak berarti


Inilah cerita ku hari ini.
      Tiada kesan tanpa pesan darimu. Ku tersadar ketika mentari telah beranjak dr peraduan. Akan tetapi, mataku enggan tuk menyapa indahnya pagi. Lalu kuterima pesan singkat dari salah seorang temanku. Bunyinya seperti ini, "teman-teman saya tunggu di lobi untuk mengumpulkan form data diri temen2,jam 9 yha". Singkatnya seperti itu. Aku senang, karena hari ini aku berharap bisa melihatnya lagi di persimpangan jalan itu.
      Aku bergegas untuk bersiap2 pergi ke kampus.
Singkat cerita, tanpa pikir panjang aku lekas ke kampus dgn harapan yang tak surut oleh sang hyang surya.namun, kembali ku tak mendapatinya di persimpangan jalan itu.
Ku menduga, apakah dia telah enggan berkunjung ke persimpangan itu??
Aaakhhh.. Mana pun itu, aku selalu menunggunya dan berharap kami bertemu di persimpangan itu lagi.
Entah berapa lama kami sudah tak pernah beradu. Puing-puing tak berarti itu pun kian berkecamuk di jiwaku. Berjuta tanya kian menyebar di otakku.
Berabad-abad ku coba tuk menatanya.
Hmmm..tapi...
       Aku yakin dia sesungguhnya telah menungguku di ujung jalan itu,bukan di persimpangan lagi.
Yaaah..itulah pikiranku yang menghiburku hingga langit jingga menghampiriku, begitu pula ketika gelap telah mengajakku untuk mengenang keindahan dian yang telah berpendar.
Jauh di lubuk hatiku, puing-puing tak berarti itu masih selalu berpendar buatmu.

(poetri '11)