Baru kali ini akau membaca novel "Toto Chan" karya Tetsuko Kuroyanagi. novel ini sudah dicetak sebanyak 13 kali. Aku membaca novel ini pada cetakan ke-13 yang terbit tahun 2007. Awalnya, aku menira bahasa dalam novel ini sangat rumit, karena novel ini memilki setting di negeri sakura. Toto Chan yang bernama asli Tetsuko merupakan gadis cilik yang cerdas dengan kepolosan dan rasa ingin tahu yang tinggi. Toto Chan bersekolah di Tomoe Gakuen setelah dipindahkan dari sekolah asalnya.Tomoe Gakuen mengajarkan Toto Chan tentang apa hakikat belajar yangg sebenarnya. Mr. Kobayashi mengajarkan kepada siswa bahwa, belajar itu tidak selalu harus mengikuti suatu sistem yang bersifat struktural. Mr. Kobayashi memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih mata pelajaran yang paling mereka sukai ketika di sekolah. hal ini mungkin saja dikarenakan agar siswa mampu belajar secara mandiri dan diharapkan berproses dengan tidak mengganggu teman yang lain di sekelilingnya. Penerapan cara belajar yang seperti itu, benar-benar membuat Toto Chan merasa sangat betah berada di sana. Pertma kali ia menginjakkan kakinya di sekolah itu, Toto Chan baru menemui kepala sekolah yang mau mendengarkan ceritanya sampai habis. Sejak itu juga Toto Chan merasa gembira mengenal Mr. Kobayashi. Tidak hanya itu, Mr Kobayashi juga mengajarkan kepada siswa bahwa ketika jam makan siang yang dilaksanakan secara bersama-sama di sekolah, siswa diharuskan membawa "sesuatu dari laut dan pegunungan". Pembelajaran yang diajarkan kepala sekolah kepada siswa benar-benar memberikan pola pikir yang universal bahwa sekolah bukanlah lembaga formal yang hanya membelajarkan bidang akademis. akan tetapi sekolah merupakan tempat yang paling tepat pula untuk membangus sebuah kepriadian, kebiasaan dan keterampilan. Banyak hal yang dapat dipetik dari novel ini, sekolah Tomoe Gakuen ini juga diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang beruntung. anak cacat, tidaklah menjadi bahan ejekan ataupun tertawaan, bahkan mereka dirangkul seolah-olah menjadi anak yang sama beruntungnya dengan anak lain.
Meskipun demikian, Tomoe Gakuen yang dibangun Mr Kobayashi pada tahun 1937 harus munah setelah adanya serangan bom ketika perang antara Jepang dan Uni Soviet yang mengebom Hirosima dan Nagazaki. ketika itu pula mimipi-mimpi anak-anak di Tomoe Gakuen harus sirna bersama ledakan bom yang membuat keadaan menjadi semakin tidak bersahabat. Mr. Kobayashi sangat menyayangkan hal tersebut. Toto Chan pun sedih karena janjinya kepada Mr. Kobayashi untuk menjadi seorang Guru di Tomoe Gakuen sepertinya tidak akan bisa terwujud. akibat dari peperangan yang menghancurkan seluruh kota di Jepang itu. Apapun itu, dan kejadian apapun Toto Chan selalu senang ketika ia ingat bahwa Tomoe Gakuen adalah sekolah dasar yang memberikan banyak pengalaman baginya, bahwa belajar itu tidak selalu secara sistematis. akan tetapi kebebasan yang bertanggung jawab.
singaraja, 28 Februari 2012'poetri
Selasa, 28 Februari 2012
Rabu, 15 Februari 2012
Buat Dian, Sumahardika
Setelah lama aku tak membuka blog ini, ternyata blogku masih tetap segitu-gitu ajah. Karena tak ada inspirasi, dan aku rasa puisi karya suma ini pantas untuk aku pasang di sini, jadi aku pasang aja. hmmm...Puisi ini implisit banget, pertamanya aku gag ngerti, tapi setelah mengonfirmasi ke pengarangnya ternyata artinya dalem bangett.. (so sweet gitu kata anak zaman sekarang). Coba deh baca!!
:)
:)
Buat
Dian
Dian
terdiam
Menusuk
rusuk
Mendesak
sesak
Menderu
biru
Pilu
Adalah Dewi Bulan yang sedang merajut dian
Di sebuah persimpangan jalan
Kala itu, hujan tengah bercengkrama dengan sisa
kemarau
Dan pohon masih sibuk menghitung tetes air yang membasuhi
dirinya
“Ah, suryakah
ia, sampai Dewi Bulanpun merajutkannya cahaya?”
“Oh, tilemkah
ia, sampai Dewi Bulanpun merajutkannya cahaya?”
Sayup-sayup para dewa dan dewi semakin jelas
terdengar
Membius percakapan hujan dan sisa kemarau
Juga menghapus tetes air di pepohonan
Dian
terdiam
Menusuk
rusuk
Mendesak
sesak
Menderu
biru
Pilu
Adalah dian yang telah usai dirajut Sang Dewi Bulan
Ditinggalkannya di sebuah persimpangan jalan
Namun tak sekalipun berdian
Hanya gerimis yang menghiasi jejak rajutan sang Dewi
Serta tetes air menggenangi setiap kehangatan yang
ditinggalkannya
Dian
terdiam
Menusuk
rusuk
ukh
Sejuk
Sumahardika
Valentine itu Penting :)
Hari ini, hari pertama setelah hari valentine tahun ini. Sebagian orang menganggap perayaan valentine itu sangat penting.Sebagiannya lagi menganggap bahwa valentine sama dengan hari biasanya. Bahkan ada juga orang yang mengatakan bahwa valentine hanyalah kebudayaan barat yang membuat kita merasa menjadi budak kebudayaan orang. Ketika dipikir-pikir, memang benar bahwa setiap hari adalah hari kasih sayang, memang benar bahwa kebudayaan barat (valentine) telah memperbudak bangsa kita. Akan tetapi, tidak ada salahnya juga merayakan hari valentine tersebut. Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda untuk setiap hal yang mereka lakukan. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menyikapi setiap perayaan hari yang diaanggap bersejarah. dan bagiku, perayaan valentine bukanlah sesuatu yang dianggap terlalu membesar-besarkan kebudayaan orang tetapi hanya menganggap bahwa satu hari itu juga dapat lebih bermakna, ketika kita mengungkapkan sayang dengan penuh kesungguhan. Meskipun setiap hari bisa dikatakan hari kasih sayang. Jadi, bagiku valentine itu agak spesial karena biasanya aku mengungkapkannya dengan memberikan coklat, wafer ataupun biskuit untuk mereka yang cukup dekat denganku. hmmmm.. meskipun murah, tetapi cukup bagiku buat mengungkapkan kalau aku sayang kepada mereka.
Rabu, 04 Januari 2012
AKULAH DIA
Akulah perempuan itu
Perempuan yang selalu menunggu
datangnya hujan di tengah gurun
Perempuan yang selalu menunggu
kereta di tengah samudra
Perempuan yang tak lelah
menanti mentari berpendar di tengah
salju
Perempuan yang tak lelah
menanti candra ketika tilem
Perempuan yang tak henti menelisik
jarum di tengah jerami
Perempuan yang tak henti
menghitung jelaga di kedua jemarimu
Akulah dia…
Dia …
Si perempuan yang tak pernah
menyulutkan api di tengah hujan
Ayu Putri Puspita'2012
Selasa, 03 Januari 2012
Bunga Pucuk Bang, penyebab kebingungan masyarakat
Pada zaman dahulu diceritakan di sebuah
desa hiduplah masyarakat yang taat melakukan upacara keagamaan. Masyarakat beraliran
Hindu memercayai bahwa kehidupan masyarakat akan harmonis jika dilaksanakan
upacara keagamaan berupa piodalan (upacara pemujaan terhadap Tuhan dengan
mengaturkan sesaji). Piodalan yang
jatuh setiap enam bulan sekali pada hari Buda
Umanis Julungwangi (Rabu Umanis) ini merupakan upacara kebesaran yang
dinanti-nanti masyarakat. Suatu ketika tepat di hari perayaan piodalan yang dirayakan di pura Pucak
Manik Desa Adat Petang, pelaksanaan piodalan terbesar yang disebut dengan karya padudusan agung lan mendem pedagingan ini
dihadiri oleh seluruh warga desa dan warga desa seberang yang konon katanya mendapat
undangan untuk menghadiri upacara piodalan
tersebut.
Ketika piodalan (upacara keagamaan masyarakat
hindu di pura berupa persembahyangan bersama dengan menggunakan
sesaji/persembahan sesuai tingkatan tertentu) di Pura Pucak Manik, Desa Adat
Petang ini berlangsung, seorang pemedek
(orang yang datang untuk sembangyang ke pura) laki-laki dengan gagah akan tangkil (sembanhyang ke pura) menggunakan
hiasan di telinganya berupa bunga pucuk bang (bunga kembang sepatu
berwarna merah). Laki-laki itu begitu gagah dengan kepercayaan dirinya
menggunakan bunga itu sebagai hiasan di telinganya. Alhasil, pemedek tersebut mengalami suatu
kejadian yang sangat aneh. Ketika hendak ke pura, seperti biasa pemedek harus melalui jalan umum di
dekat pasar Petang. Setelah memasuki jalan ke arah timur di depan pasar, pemedek itu tidak menemukan jalan menuju
pura. Pemedek tersebut berputar-putar mengelilingi jalan
dekat pura hingga ada orang yang menyadari bahwa orang itu tengah kebingungan.
Setelah ditanyakan, pemedek tersebut
ternyata akan sembahyang ke Pura Pucak Manik. Sekian lama diperhatikan,
ternyata pemedek itu menggunakan bunga pucuk bang di daun
telinganya. Bunga tersebut merupakan bunga yang tidak diperbolehkan untuk digunakan
ketika ke Pura Pucak Manik. Penduduk desa
meyakini sebuah kepercayaan bahwa masyarakat tidak boleh menggunakan bunga pucuk bang (bunga kembang sepatu
yang berwarna merah) sebagai sarana persembahyangan maupun hiasan yang
dikenakan dibagian sanggul untuk perempuan maupun di daun telinga untuk
laki-laki.
Konon, bunga tersebut
merupakan bunga yang dikenakan di mahkota Ida
Betara (manifestasi Tuhan dalam wujud barong) yang menjadi penghias di
bagian atas mahkota. Masyarakat memercayai bahwa bunga yang dijadikan mahkota
tersebut merupakan bunga kebesaran bagi masyarakat di Desa Petang. Kejadian
yang dialami pemedek tersebut
diyakini bahwa pemedek tersebut tidak
mengindahkan larangan yang dipercayai masyarakat sehingga ia mengalami kejadian
seperti kebingan dan tidak tau arah menuju Pura Pucak Manik.
Kejadian di ataslah
yang menjadi penyebab masyarakat
memercayai bahwa penggunaan bunga pucuk
bang ketika sembahyang ke Pura Pucak
Manik dilarang.
-I Gusti Ayu Putri
Puspita Sari/ 0912011004-
Minggu, 25 Desember 2011
Bukan Untukku
Tak habis-habis rasa ini. Aku hanya bisa memasang deretan tulisan sarat makna ini. Tulisan karya Ibu Sumarni Astuti kerap kali menginspirasi ku, mengingatkan aku akan masa yang silam. Kini, tulisan beliau benar-benar bak kisah yang aku alami beberapa waktu lalu. Sungguh, ini mmbuatku tak berdaya. Ku ingat sebuah kitipan yang Ibu Sumarni lontarkan terhadapku, "tepat sasaran atau nyasar".. yaaah.. jawabannya mungkin nyasar. maka inilah deretan huruf berjajar secara vertikal dan horisontal yang menginspirasi dan membuatku bernostalgia dan bernostalgila.
...Cuma sekelebat bayang tertumpu kepadamu
biarlah kukristalkan saja
bila kelu kambium pada waktunya
jarum jam terasah asin laut
rindu jadi berkarat
lentera nelayan itu........
bukan,
itu bukan jemputan untukku
(Sumarni Astuti Dirgha'11)
...Cuma sekelebat bayang tertumpu kepadamu
biarlah kukristalkan saja
bila kelu kambium pada waktunya
jarum jam terasah asin laut
rindu jadi berkarat
lentera nelayan itu........
bukan,
itu bukan jemputan untukku
(Sumarni Astuti Dirgha'11)
Bagiku kejujuran itu...
Bagiku kejujuaran adalah tidak adanya hal yang ditutup-tutupi ataupun kebohongan.
Bagiku kejujuran itu sangat penting, besar artinya buat kebersamaan.
Bagiku kejujuran bukanlah kata sumpah yang diucapkan hanya semata-mata buat orang yakin.
Bagiku kejujuran bukanlah bahan becandaan, buat menarik perhatian orang.
Bagiku kejujuran bukanlah hanya untaian kata-kata yang membentuk kesatuan berupa kalimat yang memilki maksud suatu kebenaran semata.
Bagiku kejujuran bukanlah hal yang memalukan untuk diakui.
Bagiku kejujuran bukanlah kamuflase semata demi menjaga hubungan baik.
Bagiku kejujuran bukanlah kebahagiaan yang hanya di awal namun berakhir tragis,akan tetapi kejujuran tidak menyakiti.
Bagiku kejujuran adalah segala-galanya yang mampu membuat ku tetap berpikir bahwa jujur itu bukan kebahagiaan sesat, bukan kamuflase, bukan hal yang memalukan, bukan hanya untaian kata, bukan bahan becandaan,bukan sumpah, dan yang terpenting kejujuran itu bukan kemunafikan. Kamu munafik. Kejujuran itu bukan kamu.
-Poetri'11-
Bagiku kejujuran itu sangat penting, besar artinya buat kebersamaan.
Bagiku kejujuran bukanlah kata sumpah yang diucapkan hanya semata-mata buat orang yakin.
Bagiku kejujuran bukanlah bahan becandaan, buat menarik perhatian orang.
Bagiku kejujuran bukanlah hanya untaian kata-kata yang membentuk kesatuan berupa kalimat yang memilki maksud suatu kebenaran semata.
Bagiku kejujuran bukanlah hal yang memalukan untuk diakui.
Bagiku kejujuran bukanlah kamuflase semata demi menjaga hubungan baik.
Bagiku kejujuran bukanlah kebahagiaan yang hanya di awal namun berakhir tragis,akan tetapi kejujuran tidak menyakiti.
Bagiku kejujuran adalah segala-galanya yang mampu membuat ku tetap berpikir bahwa jujur itu bukan kebahagiaan sesat, bukan kamuflase, bukan hal yang memalukan, bukan hanya untaian kata, bukan bahan becandaan,bukan sumpah, dan yang terpenting kejujuran itu bukan kemunafikan. Kamu munafik. Kejujuran itu bukan kamu.
-Poetri'11-
Langganan:
Postingan (Atom)